Ketua DPRD Berau Desak Dinas Kesehatan Segera Tangani Kekosongan Tenaga Medis di Puskesmas

img

Ketua DPRD Berau Dedi Okto Nooryanto dan Kepada Dinkes Berau Lamley Sari

 

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Ketua DPRD Berau, Dedi Okto Nooryanto, meminta Pemerintah Daerah melalui Dinas Kesehatan untuk segera mengambil langkah konkret dalam mengatasi kekosongan tenaga medis di sejumlah puskesmas, terutama di Kecamatan yang belum memiliki tenaga kesehatan tetap.

 

Menurut Dedi, kekosongan petugas medis di beberapa wilayah menjadi keluhan masyarakat dan harus segera dicarikan solusi. Ia menekankan pentingnya kehadiran minimal satu orang petugas medis, khususnya dokter, yang bisa bertugas sementara secara bergiliran agar pelayanan kesehatan tetap berjalan.

 

"Saya minta Dinas Kesehatan segera carikan solusi. Minimal satu orang ditugaskan dulu di sana. Bukan hanya di Kecamatan Segah, tapi semua kecamatan yang mengalami kekosongan. Bisa dilakukan rolling, seminggu atau sebulan sekali ganti," ujarnya.

 

Dedi juga menyebutkan bahwa opsi menggunakan sistem outsourcing tidak efektif dalam situasi ini, karena tenaga kesehatan yang bertanggung jawab langsung harus berasal dari instansi terkait.

 

“Kita harus prioritaskan pelayanan untuk masyarakat. Jangan sampai puskesmas kosong, karena masyarakat yang akan dirugikan. Saya paham ada kendala transportasi, tapi itu harus dicarikan solusinya,” tambahnya.

 

Ia pun menegaskan bahwa Dinas Kesehatan memiliki wewenang dan sumber daya untuk melakukan rotasi sementara dari tenaga medis yang ada.

 

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Berau, Lamlay Sarie, saat dikonfirmasi mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi kekosongan tenaga dokter di Puskesmas. Seperti  sempat kekosongan Puskesmas  Tepian Buah.

 

Menurut Lamlay, kekosongan tenaga medis tersebut bukan tanpa penanganan. Sejak tahun lalu, Dinkes telah melakukan upaya rolling atau perputaran dokter dari puskesmas lain. Namun, kondisi terbatasnya jumlah dokter di wilayah lain membuat proses tersebut tidak bisa dilakukan secara optimal.

 

"Memang sebelumnya sudah ada dokter di sana, yakni dr. Abdillah. Tapi tahun ini beliau lulus CPNS dan ditempatkan di Puskesmas Long  La’ai. Jadi sebenarnya sejak tahun lalu kami sudah mulai rolling," jelas Lamlay.

 

Ia menyebutkan bahwa beberapa dokter yang sempat dirolling ke Puskesmas Tepian Buah berasal dari Pekotaan, namun saat ini banyak tenaga medis yang mengikuti pelatihan CPNS sehingga jumlah dokter aktif makin terbatas.

 

Dinkes Berau juga telah mengusulkan pengiriman dokter melalui program Nusantara Sehat dari Kementerian Kesehatan. Namun, sistem pendataan Kemenkes masih mencatat bahwa Puskesmas Tepian Buah memiliki tenaga dokter, yakni dr. Abdillah, sehingga permohonan belum bisa diproses lebih lanjut.

 

Lamlay menegaskan bahwa meskipun tidak selalu ada dokter yang standby di Puskesmas Tepian Buah, tidak berarti puskesmas tersebut benar-benar kosong sepanjang waktu.

 

"Memang dalam beberapa waktu tertentu ada kekosongan, bisa karena dokter sakit, cuti, atau sedang pelatihan. Tapi tidak benar jika dibilang kosong total setahun penuh," katanya.

 

Dinkes juga menyadari bahwa penempatan tenaga medis di wilayah terpencil seperti Tepian Buah memiliki tantangan tersendiri, salah satunya adalah minimnya minat dokter untuk ditugaskan di daerah tersebut. Faktor keluarga dan akses yang sulit menjadi kendala tambahan.

“Kami tetap berkomitmen menyelesaikan masalah ini, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Kami juga akan terus memantau dan mengevaluasi penugasan dokter agar layanan kesehatan di semua puskesmas tetap berjalan,” tutup Lamlay. (sep/FN)